Konsep Kesehatan Mental
Faktor psikis adalah faktor penting yang tidak boleh diabaikan oleh manusia, tanpa
mengesampingkan pentingnya faktor
fisiologis. Dua faktor tersebut
tidak bisa dipisahkan, dan dibutuhkan
keseimbangan agar kesehatan mental dapat terwujud. Sakit itu mahal, tapi sehat
jauh lebih mahal. Itu yang saya pelajari dari matakuliah kesehatan mental
minggu kemarin. Itu bukan sekedar slogan
atau pepatah semata looh, bayangin aja rasanya kalo kita sakit atau sehat,
lebih nyaman mana ? pasti lebih nyaman sehat kan ? Karena dengan sehat (fisik,psikis)kita
lebih bebas melakukan hal-hal yang kita suka, melakukan hobi contohnya (hobi
yang positif yaa), bisa menyelesaikan tugas untuk memenuhi kewajiban dengan
baik, bisa lebih banyak berbuat kebaikan untuk sekitar dan peluang berbahagia
dalam hidup juga lebih besar. hahaha Sebaliknya kalo kita sakit, melakukan
apapun jadi tidak nyaman karena kondisi tubuh maupun psikis tidak mendukung,
lebih banyak pusing, diri menjadi tidak produktif dan lebih banyak menimbulkan ketidaksenangan
dalam hidup. J
Nah,
disini saya ingin berbagi materi yang saya dapat dari salah satu dosen Psikologi saya, silahkan baca dan temukan
keasikkannya. Karena saya mendapatkan banyak manfaat dari membaca materi ini,
memperluas pengetahuan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga
kesehatan baik fisik maupun psikis. Oke deeh, selamat membaca yaaa .. :D
Konsep Kesehatan
Mental
Konsep
kesehatan mental atau al-tibb al-ruhani pertama kali diperkenalkan dunia
kedokteran Islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu
Sahl al-Balkhi (850-934). Dalam kitabnya berjudul Masalih al-Abdan wa al-Anfus
(Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil menghubungkan penyakit
antara tubuh dan jiwa. Ia biasa menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk
menjelaskan kesehatan spiritual dan kesehatan psikologi. Menurut al-Balkhi,
badan dan jiwa bisa sehat dan bisa pula sakit. Inilah yang disebut keseimbangan
dan ketidakseimbangan. Dia menulis bahwa ketidakseimbangan dalam tubuh dapat
menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit di badan. Sedangkan,
ketidakseimbangan dalam jiwa dapat menciptakan kemarahan, kegelisahan,
kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya. Selain
al-Balkhi, peradaban Islam juga memiliki dokter kejiwaan bernama Ali ibnu Sahl
Rabban al-Tabari . Lewat kitab Firdous al-Hikmah yang ditulisnya pada abad ke-9
M, dia telah mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami
gangguan jiwa. Al-Tabari menekankan kuatnya hubungan antara psikologi dengan
kedokteran. Menurut
dia, untuk mengobati pasien gangguan jiwa membutuhkan konseling dan dan
psikoterapi. Al-Tabari menjelaskan, pasien kerap kali mengalami sakit karena
imajinasi atau keyakinan yang sesat. Untuk mengobatinya, kata al-Tabari, dapat
dilakukan melalui ''konseling bijak''. Terapi ini bisa dilakukan oleh seorang
dokter yang cerdas dan punya humor yang tinggi. Caranya dengan membangkitkan
kembali kepercayaan diri pasiennya.
Ciri-ciri tingkah laku sehat
dan normal
Warga (1983)
Ciri-ciri individu sehat/normal
adalah:
1.
Bertingkahlaku menurut norma2 sosial yang
diakui.
2.
Mampu mengelola emosi.
3.
Mampu m’aktualkan potensi-potensi yang dimiliki.
4.
Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan sosial.
5.
Dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan
kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya.
6.
Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai
tujuan jangka panjang.
7.
Mampu belajar dari pengalaman.
8.
Biasanya gembira.
Harber&Runyon (1984)
Ciri individu normal adalah:
1.
Sikap terhadap diri sendiri: mampu menerima diri
apa adanya, memiliki identitas diri yang jelas, mampu menilai kelebihan dan
kekurangan diri sendiri secara realistis.
2.
Persepsi terhadap realita: pandangan realistis
terhadap diri dan dunia sekitar yang meliputi orang lain maupun segala
sesuatunya.
3.
Integrasi: kepribadian menyatu & harmonis,
bebas konflik, toleransi yang baik terhadap stres.
4.
Kompetensi:mengembangkan ketrampilan dasar
b’kaitan dengan aspek fisik, inteligensi, emosional dan sosial untuk melakukan
coping thd masalah.
5.
Otonomi: memiliki ketetapan diri yang kuat,
b’tgjwb, penentuan diri dan memiliki kebebasan yang cukup thd pengaruh sosial.
6.
Pertumbuhan dan aktualisasi diri: pengembangan
ke arah kematangan, pengembangan potensi dan pemenuhan diri sebagai pribadi.
7.
Relasi interpersonal: kemampuan membentuk dan
memelihara relasi interpersonal yang intim.
8.
Tujuan hidup: Tidak perfeksionis, tapi membuat
tujuan yang realistis dan masih dalam kemampuan individu.
Pengertian Kesehatan
1.
“Suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari
suatu organisme atau bagiannya yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak
adanya penyakit” (Freund, 1991:The International Dictionary of Medicine &
Biology).
2.
“Kesehatan adalah:1).Condition of a
person’s body or mind.2).State of being well and free from illness”. (Hornby,
1989).
“Keadaan (status) sehat utuh secara fisik,
mental (Rohani) dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari
penyakit, cacat atau kelemahan” (WHO dalam Smet, 1994)
Komentar
Posting Komentar